Emiten Program 40 Persen LPCK

Emiten berikutnya yang saya masukkan dalam program Desember 40% ini masih sama dengan emiten yang ada di portofolio sebelumnya yakni, Lippo Cikarang (LPCK). Sebelumnya saya sudah memaparkan sedikit data dan ulasan mengapa saya memasukkan AISA dalam portofolio Desember 40%. Pada umumnya alasan mengapa saya mengambil LPCK hampir sama dengan AISA; harga yang sangat terdiskon dan kinerjanya meskipun tidak bisa dibilang sangat baik terutama akhir – akhir ini, namun juga tidak jelek (menghasilkan laba rugi). Saya juga lebih senang mengambil emiten yang secara historis pernah menghasilkan kinerja yang sangat cemerlang, meskipun pada saat ini peformanya tidak memuaskan. Alasan saya cukup sederhana, jika emiten pernah menghasilkan kinerja seperti itu peluang untuk menghasilkan kinerja yang sama sangat mungkin, walaupun saya tidak bisa memastikan 100%.

Berikut rangkuman data penting dan kinerja LPCK mulai tahun 2009 hingga 2017 (kuartal 3 disetahunkan).

Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Ekuitas 498 564 821 1200 1800 2700 3600 4200 7100
Aset 1600 1700 2000 2800 3800 4300 5500 5700 10800
Net Profit 26 65 258 407 591 844 911 539 557
PBV 0.33 0.43 1.56 2.17 2.13 3.01 1.17 0.83 0.36

Catatan: Angka dalam milyar rupiah kecuali data PBV. Angka rupiah adalah pembulatan. Ekuitas yang digunakan adalah net ekuitas yaitu yang dibagi ke saham pengendali.

Jika melihat ekuitas bersih dan nilai aset, tidak diragukan lagi emiten ini bertumbuh secara konsisten dari tahun ke tahun tanpa pernah mengalami penurunan. Ekuitas dari 498 milyar (2009) hingga 7100 milyar (2017), ekuitas perusahaan sudah tumbuh 1325%. Dari Net profit yang dihasilkan memang fluktuatif. Namun jika melihat dari awal tahun 2009 hingga kuartal-3 2017, net profit yang dihasilkan mengalami peningkatan yang cukup pesat dari 26 milyar (2009) menjadi 418 milyar (kuartal 3 2017). Naik signifikan 1507%.

Tahun 2017 adalah tahun yang berat untuk sektor properti. Ketika IHSG bisa mencapai pertumbuhan 19.99%, sektor konstruksi dan properti malah menunjukkan kinerja yang menurun -4.8%. Dan jika melihat harga saham LPCK dari awal tahun 2017 hingga akhir tahun 2017, sudah terkoreksi -33%. Bahkan jika kita melihat lebih jauh kebelakang ketika masa jayanya di tahun 2014/2015 dari harga 11000 hingga akhir tahun 3100, saham LPCK sudah terkoreksi -72%. Apakah harga sahamnya sudah mentok dan tahun 2018 ini akan naik? Kita tidak tahu. Namun yang pasti ketika kita masuk, harga yang kita beli sudah sangat terdiskon. Berharap harga saham kembali kenilai bukunya saja, profit yang kita harapkan sudah lebih dari cukup.

Satu hal lagi. Disatu bagian pada bukunya The Intelligent Investor, Benjamin Graham menyebutkan kalau bisa kita investor sebaiknya membeli saham yang harga sahamnya jauh dibawah modal kerja bersihnya. Dari laporan kuartal-3 2017, kita coba ambil data keuangan LPCK sebagai berikut.

Utang jangka pendek = 2.1 triliun;

jangka panjang = 1.5 triliun;

total utang = 3.6 triliun;

aset lancar = 9.5 triliun;

ekuitas bersih = 7.1 triliun;

jumlah saham beredar= 696 juta.

Beberapa referensi mengatakan modal kerja bersih adalah: Aset lancar – utang jangka pendek. Namun ada juga yang mengatakan modal kerja bersih = aset lancar – total utang. Kita coba lebih konservatif dengan menggunakan yang aset lancar –  total utang. Nilai yang didapat adalah = 5.9 triliun. Jika kita bagi dengan jumlah saham beredar maka nilai per lembarnya menjadi = 8477 perlembar. Menghitung nilai buku biasanya kita gunakan adalah nilai ekuitas bersih dibagi dengan jumlah sahamnya. Namun meskipun kita lebih konservatif dengan menggunakan nilai modal kerja bersihnya, harga saham yang layak untuk emiten ini masih 8477. Bandingkan dengan harga saham sekarang 3300.

Beberapa kriteria lain yang kita gunakan untuk memilih saham ini juga memenuhi seperti aset lancarnya yang lebih besar dari aset tidak lancar, jumlah ekuitas bersih diatas total utang dan proporsi saldo laba yang dominan dibanding komponen lain dari keseluruhan ekuitas bersihnya. Untuk prospeknya; brand Lippo saya rasa banyak memberi nilai tambah. Mega proyek Meikartanya juga memberi kepastian akan proyek jangka panjang kedepan. Kita akan tahan emiten ini setahun kedepan.