Kembali Masuk BUMI

Pada artikel kinerja Februari program Desember 40% saya menyebutkan bahwa akhirnya kita kembali masuk BUMI dengan menempatkan dana kelolaan sekitar seperempat dari total portofolio Desember 40%. Sepintas saya menyebutkan beberapa alasan seperti: pilihan yang sudah saya tetapkan sebelumnya antara konstruksi, properti dan batubara. Karena 2 sektor pertama sudah ada emiten yang masuk, maka pilihan tinggal batubara. Alasan lain yang juga cukup penting adalah karena rasio kas terhadap utang berbunga jangka pendek emiten AISA yang dulunya saya ambil sangat kecil, hanya sekitar 4%. Belakangan ini seiring bertambahnya pengetahuan, saya menggunakan rasio ini sebagai faktor penentu selain tentunya harga harus murah. Memang rasio kas yang dimiliki emiten BUMI ini tidak terlalu bagus, namun ada sedikit kelonggaran mengingat kondisi keuangannya sebelumnya yang memang hancur – hancuran. Tapi jika kita melihat sepanjang kuartal 1 hingga 3 2017, ada perbaikan yang menjanjikan.

Pada tanggal 20 Februari 2018, Kontan online membuat list 5 emiten batubara dengan cadangan terbesar. Dari yang paling tinggi hingga terrendah berurut adalah:

  1. BUMI: Cadangan 14 miliar ton (US$ 1,26 triliun, asumsi US$ 90 per ton).
  2. ADRO: Cadangan 13,5 miliar ton (US$ 1,15 triliun).
  3. PTBA: Cadangan 11,5 miliar ton (US$ 1,04 triliun).
  4. INDY: Cadangan sekitar US$ 379,80 miliar.
  5. ITMG: Cadangan sekitar US$ 171 miliar.

Ini adalah fakta yang kita semua terima. Bahwa BUMI masih merupakan emiten batubara dengan cadangan terbesar di Indonesia. Kenyataan bahwa utangnya yang segunung, kondisi utang dimasa lalu yang sangaaat mengkuatirkan serta cadangan terbukti siap jual yang masih dibawah PTBA, bisa menjadi perhatian. Namun kita semua tahu bahwa BUMI adalah emiten batubara dengan cadangan terbesar.

Sebelum saya putuskan memasukkan sebagian porto ke BUMI seperti yang saya sampaikan dilaporan kinerja Februari Desember 40 persen, saya mencoba membuat perbandingan harga saham beberapa emiten batubara seperti: ADRO, ITMG, KKGI, PTBA, PTRO, HRUM, INDY, termasuk BUMI. Hasilnya saya rangkum seperti dibawah:

  • Dari 2014 s/d 2015: rata – rata harga saham 8 emiten tersebut mengalami penurunan sebanyak 62%, tidak ada emiten yang harga sahamnya meningkat. Disaat yang sama BUMI sendiri mengalami penurunan harga 50%. Pengaruh harga batubara yang anjlok menurut saya menjadi faktor mengapa semua harga saham menurun, termasuk BUMI.
  • Dari 2015 s/d 2016: harga saham semua emiten naik sangat signifikan, rata – rata kenaikan adalah 353%. Tidak ada emiten yang harga sahamnya turun dan kenaikan tertinggi dicapai BUMI (896%) disusul INDY (579%). Mulai naiknya harga batubara membuat optimisme investor bahwa kinerja emiten batubara akan membaik.
  • Dari 2016 s/d 2017: kenaikan harga saham fluktuatif. Pada umumnya menunjukkan kenaikan kecuali BUMI sendiri (-35%). Rata – rata kenaikan adalah 116% dengan kenaikan tertinggi adalah INDY (+476%) dan PTRO (+212%). Faktor utang yang segera jatuh tempo serta kondisi modal yang masih saja tidak membaik menjadi penentu mengapa BUMI bisa lain sendiri. Jika kita melihat laporan keuangan BUMI Q1-2017, baik ekuitas pemilik saham dan non pengendali semua minus. Di Q2-2107 kondisi sedikit membaik, meskipun ekuitas pengendali masih minus namun ekuitas non pengendali sudah positif. Di Q3-2017 kondisi ekuitas semakin membaik seiring dengan semakin jelasnya status utang jatuh tempo. Meskipun ekuitas pengendali masih minus, namun sudah berkurang jauh dibandingkan di kuartal 2 sebelumnya.
  • Awal 2018: Harga batubara yang positif menjadi sinyal bagi kita untuk yakin bahwa BUMI akan bisa mempercantik laporan keuangannya di akhir tahun 2017. Meskipun di Q3 ekuitas pengendalinya masih minus, namun jika harga batubara bisa diatas $100 at least hingga akhir Q1 2018, kita melihat ekuitas pengendali ini akan kembali positif. Dan disaat ini terjadi, kemungkinan BUMI akan mengejar ketertinggalan harga sahamnya dari emiten batubara yang lain.
  • Berdasarkan analisis sederhana diatas, selain mengambil BUMI untuk porto Desember 40%, kita juga mengalokasikan sebagian dana dari portofolio awal.
  • Analisa kita ini mungkin salah, dan seperti bukan mengikuti aliran seorang value investor. Namun apa yang kita lihat pertama dan terutama adalah emiten ini memiliki harga termurah dibanding emiten batubara yang lain. Sepanjang harga batubara bisa terjaga seperti saat ini hingga Q1 2018, kita berkeyakinan laporan keuangan BUMI akan semakin cantik yang tentunya diiringi dengan kenaikan harga saham nya. Per hari ini kita memegang BUMI di porto awal dengan harga rata rata 297, sedangkan di porto Desember 40% di harga rata rata 310.