Kinerja Desember 2017

Selama bulan Desember 2017 bursa sangat bergairah dengan pencapaian rekor index terbaru sepanjang sejarah bursa saham Indonesia. Mungkin harga 6000 untuk penutupan tahun sudah cukup bagus, namun bisa hingga mencapai 6300an menandakan optimisme investor. Namun hal ini bisa jadi sinyal juga untuk kita semakin berhati – hati. Seperti yang Warren Buffet pernah katakan “Fearful when others are greedy and greedy when others are fearful”. Perlu kehati – hatian untuk memilih stok karena harga banyak yang sudah pada mahal.

Awal bulan ini kita menutup satu posisi yang porsinya lumayan besar dari keseluruhan portofolio. Kita tutup BUMI karena kinerjanya belum cukup bagus. Hal ini terlihat dari nilai ekuitas pemilik induk yang masih minus, meskipun secara keseluruhan ekuitas sudah positif. Namun penutupan posisi BUMI juga memberi kita peluang untuk mengcover posisi AISA yang sudah turun cukup dalam. Pada harga sekitar 400 nilai PBV AISA hanya sekitar 0.4. Harga yang sangat murah tentunya untuk sebuah emiten sektor konsumsi. Apalagi jika melihat laporan keuangan AISA kuartal 3 kemarin sebenarnya tidaklah jelek jelek amat. Perusahaan tidak sampai merugi. Hanya penurunan laba jika dibanding tahun kemarin. Penurunan performa ditambah dengan sentimen negatif yang memang sedang mendera perusahaan beberap waktu belakangan membuat banyak investor keluar. Alhasil posisi AISA sempat jatuh ke harga 370an (PBV 0.3), suatu harga yang sangat murah mengingat perusahaan tidak dalam kondisi rugi, memiliki beberapa produk yang cukup terkenal seperti Taro, Mie 2 Telor dan terus mengembangkan usaha seperti pembuatan pabrik untuk produk baru Capri – Sun.

Di awal tahun 2018 kita juga akan mencoba menambah posisi di PGAS jika harganya cocok. Valuasinya memang sudah murah dengan PBV 1.0. Bisa dibilang kisahnya PGAS mirip dengan AISA, kinerja yang sedang menurun ditambah dengan sentimen negatif yang membuat harganya tidak masuk akal (red, murah). Kita tahu PGAS bisa dibilang sebagai perusahaan yang memonopoli distribusi gas di negeri ini, termasuk salah satu emiten big cap. Akhir tahun 2017 ini kita juga mendapat dana segar sehingga lebih bisa mengatur portofolio lagi.

Jika dibandingkan dengan kinerja November 2017 kemarin, bulan ini kinerja kita berbanding terbalik dengan pencapaian IHSG. Namun seperti yang kita sebutkan sebelumnya, kita kembali bisa mengatur portofolio terutama bisa mengambil posisi yang lebih baik lagi pada beberapa saham pilihan.

Berikut ringkasan kinerja hingga Desember 2017.

Index Close Nov.2017 Close Dec.2017 Monthly % YTD %
IHSG 5952.14  6355.65  + 6.78 %  + 19.99 %
Portofolio  – 1.5 %  + 8.71 %

Beberapa catatan tentang tabel diatas:

  1. Kinerja portofolio diatas sudah termasuk dengan penambahan modal yang kita lakukan diakhir bulan, sehingga peforma sebenarnya lebih tinggi yakni: +11.1%.
  2. Adanya tambahan dana segar akan kita topup ke saham yang masih cukup murah seperti AISA dan PGAS.

Kinerja Saham yang kita ambil hingga Desember 2017.

  • PGAS 1: -12.89%
  • AISA: -14.23%
  • INDY: +170.32%
  • LPCK: -17.48%
  • LPPF: -5.66%
  • WSBP: +7.09%
  • SOCI: -1.26%
  • APLN: -8.70%
  • PGAS 2: -0.47%

Saham PGAS kita bagi 2 karena diambil dari 2 sekuirtas berbeda.  Kita berencana untuk melego LPPF karena sebenarnya kemarin diambil lebih karena faktor spekulasi. Pelajaran untuk pemula. Antara LPCK dan APLN, kita akan coba rampingkan dengan memilih salah satunya. Mengingat index sudah naik cukup banyak sepanjang tahun 2017, kita akan siapkan cash untuk jaga jaga kalau index turun dan kita menemukan peluang baru. Jumlah emiten akan kita pertahankan, kalaupun cash digunakan lebih untuk menambah dana ke saham saham yang sudah dipegang.