Kinerja Februari Program Desember 40%

Menjelang akhir bulan kemarin, kita berhasil mengalokasikan dana ke dalam 4 emiten seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Satu emiten yang sebelumnya kita ambil yakni AISA, harus kita jual dengan umur yang baru 2 minggu. Alasan penjualan seperti yang kita utarakan di laporan kinerja Februari, adalah karena melihat porsi kas yang sangat sedikit dibandingkan utang berbunganya yang hendak jatuh tempo. Kemudian jika melihat keseluruhan dana yang kita tempatkan di AISA mulai dari portofolio awal dengan portofolio program Desember 40% ini porsinya cukup besar, hampir 40 persen dari keseluruhan dana yang kita kelola. Hal ini juga yang menjadi alasan sehingga AISA di program Desember 40% ini kita jual semua dan setengah lagi di portofolio sebelumnya harus kita lego juga.

Ada rasa kesal juga ketika kita menjual AISA, namun saya rasa ini adalah bagian pembelajaran bagi seorang pemula. Kita menjual AISA dengan posisi profit net 12%. Kita jual di harga 550 tgl 22 Februari. Namun keesok harinya hingga akhir bulan, saham AISA melejit sampai pernah menyentuh harga 700. Ada sedikit rasa kecewa karena kita seperti membuang peluang didepan mata. Jika kita tunggu beberapa hari, mungkin target 40% seperti yang kita rencanakan sebelumnya sudah tercapai. Namun seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, bahwa ini adalah proses pembelajaran juga. Keputusan menjual AISA diawal adalah dengan pertimbangan resiko antara kas dengan utang berbunga jatuh temponya yang sangat mengkuatirkan. Bagi saya faktor ini sangat penting menentukan investasi kita untuk jangka panjang.

Sebagai pengganti AISA, kita melihat tidak banyak pilihan. Kita hendak membuat portofolio terbagi untuk meminimalkan resiko sekaligus melihat potensi yg lebih baik. Pilihan kita adalah antara konstruksi, properti dengan emiten batubara. Konstruksi, kita sudah memasukkan SSIA kedalam porto sedangkan properti kita sudah memegang ASRI dan LPCK. Memilih emiten batubara saat ini memang sedikit susah karena harganya sudah banyak yang naik sejak awal tahun 2017 bahkan sejak pertengahan 2016 kemarin. Dengan segala macam pertimbangan akhirnya kita putuskan untuk masuk di BUMI. Secara harga jelas masih murah dan jika kita bandingkan dengan emiten batubara yang lain, BUMI kelihatan anomali. Ketika emiten lain sedang naik – naiknya malah dia turun sendiri. Memang, kondisi keuangannya yang tidak baik dimasa lalu membuat harga emiten ini bertolak belakang kenaikannya dengan emiten batubara pada umumnya. Namun kita melihat setahun belakangan ini, posisi keuangannya sudah mulai membaik. Per kuartal 3 2017, posisi ekuitas pemilik saham induk masih minus namun secara keseluruhan ekuitasnya sudah sudah positif 207 juta dollar. Berbanding terbalik dengan laporan yang sama ditahun 2016 dimana ekuitas total maupun saham pengendali masih minus 2.7 milyar dollar. Kita melihat seiring membaiknya harga batubara, ditahun 2017 atau setidaknya hingga Q1 2018 kondisi keuangannya akan semakin sehat. Kita punya waktu setidaknya hingga Q3 2018. Ketika kondisi keuangannya sudah semakin sehat, dia akan mengejar harga ketertinggalannya dari emiten – emiten batubara lain. Posisi kas per laporan keuangan kuartal 3 terakhir adalah sekitar 28% dari hutang berbunga jangka pendeknya. Meskipun tidak terlalu besar namun masih lebih baik jika kita bandingan dengan AISA yang jika dilihat dari laporan keuangan terakhir rasionya hanya sekitar 4%.

Secara keseluruhan kinerja porto ini dibandingkan IHSG untuk bulan ini, masih lebih baik. Plus 4.02% dibanding dengan IHSG minus 0.13%. Kita juga masih memiliki sedikit kas (7%) yang bisa kita manfaatkan dikemudian hari atau menambah porsi emiten yang sudah ada.

Berikut kinerja ke empat emiten yang ada dalam portofolio ini.

  • LPCK: -1.18%
  • ASRI: +1.18%
  • SSIA: +7.55%
  • BUMI: -2.43%