Kinerja Maret 2018

Selamat Paskah bagi Anda yang merayakannya. Semoga damai Kristus dan kebahagian selalu menyertai Anda sekeluarga.

Bulan Maret 2018 adalah bulan yang sangat menantang. Setelah IHSG mencapai rekor tertinggi di bulan lalu, bulan ini IHSG kembali membukukan rekor baru dimana nilai index turun dibawah harga tertinggi tahun lalu. Malah lebih dalam lagi. Per akhir Maret 2018 index ditutup pada harga 6188,987. Secara tahunan index sudah turun sebanyak 2.62% dari posisi akhir tahun 2017 dan index IHSG akhirnya berada di posisi ke 5 urutan kenaikan index di Asia Tenggara dan ke 8 di regional Asia Pasifik. Jadi sepanjang tahun ini IHSG sudah turun 2 bulan berturut – turut sejak bulan Februari kemarin (Feb: -0.13%, Mar: -2.62%). Kita melihat sepanjang April ini jika neraca perdagangan belum menunjukkan angka – angka yang baik, maka index IHSG masih cenderung akan tertekan.

Dalam membeli saham, kriteria pertama dan terutama yang saya gunakan adalah harganya harus murah. Parameter yang selalu saya gunakan untuk mengukur murah tidaknya adalah angka PBV (Price Book Value). Saya cenderung mencari emiten yang memiliki PBV dibawah 1, meskipun tidak selalu. Jika emiten tersebut bagus tetapi angka PBV nya tidak dibawah 1, maka saya membandingkan data terakhirnya dengan angka PBV historis. Jika secara historis angka PBV bisa diatas 1 atau bahkan 3 misalnya sedangkan pada saat tersebut PBV terakhir mendekati 1 misalnya, maka saya kadang sudah menganggap emiten tersebut murah. Pun jika saya melihat ada emiten yang PBV dibawah 1, maka angka historisnya tetap saya gunakan untuk perbandingan. Metode saya sangat sederhana, cari PBV yang kecil. Jika masih ragu, tinggalkan dan cari emiten lain. Kriteria – kriteria lain merupakan pendukung untuk memutuskan jadi ambil atau ngga. Makanya saya kadang agak susah mengambil emiten blue chip karena ragu menilai angka murahnya, karena harganya memang sudah pada mahal (angka PBV tinggi). Paling yang pernah saya ambil adalah PGAS karena angka PBV nya memang pernah mendekati dibawah 1. Padahal PGAS adalah penguasa distribusi gas nasional. Kemudian WIKA yang kemudian juga memang saya jual.

Per akhir Maret 2018, banyak hal yang sudah kita lakukan untuk memperbaiki kinerja keseluruhan portofolio. Termasuk saya harus menjual PGAS, hehehe… (nanti saya berikan alasannya). Index bulan Maret kembali mencatatkan sejarah tahun ini karena turun dibawah harga index tertinggi tahun lalu. Seperti yg sudah saya sebutkan, kriteria pemilihan saham saya sangat sederhana (cari emiten dengan angka PBV kecil). Kemudian saya juga tidak terlalu kaku untuk memegang saham sampai seumur hidup, hehehe… Jika menurut saya ada perubahan fundamental saya siap untuk melepaskannya untuk mencari peluang lain. Saya usahakan ketika melepas, tidak dalam keadaan rugi. Pengetahuan selama bulan Maret ini sepertinya juga bertambah. Jika sebelumnya saya menggunakan perbandingan kas terhadap utang berbunga jangka pendek untuk menilai emiten, bulan ini saya perbaiki lagi. Kas memang sangat perlu, namun yang lebih penting adalah bagaimana posisi utang berbunga terhadap keseluruhan utang. Kemudiaan faktor ketersediaan kas menjadi pendukung. Alasan saya sebenarnya sangat simpel. Jika krisis keuangan terjadi maka emiten yang memiliki porsi utang berbunga yang besar akan mengalami kesulitan terbesar, secara jangka pendek terutama jangka panjang. Bagaimanpun kita sebisa mungkin mengindari segala kemungkinan terburuk. Kinerja bisa naik turun, namun emiten yang utang bunganya tidak terkendali menurut saya sangat beresiko sekali dikoleksi.

3 hal yang  menonjol saya lakukan di bulan ini adalah:

  • Saya akhirnya menjual keseluruhan PGAS.
  • Saya kembali optimis dengan BUMI.
  • Laporan kinerja portofolio awal dengan porto Desember 40% digabung menjadi satu.

Penjualan saham PGAS merupakan keputusan yang cukup berat karena saya berpikir emiten inilah yang akan saya pegang untuk jangka panjang (diatas 1 tahun mungkin). Namun jika melihat kinerjanya per akhir 2017, laba bersihnya tergerus lebih dari 50% dibanding 2016. Ditahun sebelumnya juga laba bersihnya sudah turun 20% dari tahun 2015. Saya melihat lebih baik untuk keluar sejenak untuk mengatur posisi lebih baik lagi. Dari 2 posisi PGAS yang ditutup, saya keluar dengan return +19% dan  +37%. Keputusan ini juga membuat saya bisa mengatur portofolio ditengah penurunan harga saham emiten lain. Saya tetap siap untuk kembali mengambil posisi di PGAS. Target saya adalah jika harganya turun dibawah 2000. Perkiraaan saya tahun ini PGAS masih ada kemungkinan ke arah itu. Jika ternyata prediksi saya salah maka saya akan mencari peluang emiten lain. Jadi keputusan jual ini lebih karena: pertama melihat kinerjanya yang turun sangat dalam (lebih dari 50%. Jika dibawah 20% saya masih akan tahan), kedua melihat peluang bahwa saya bisa mengambil posisi PGAS di harga murah, dan ketiga untuk mengatur keseluruhan portofolio supya lebih baik lagi ditengah penurunan harga saham emiten lain.

Pada 18 Maret saya membuat posting tentang keputusan akhirnya masuk kembali ke BUMI. Disitu saya sebutkan beberapa alasan mengapa saya kembali masuk ke saham BUMI. Jika melihat parameter – parameter terutama tentang utang maka sebenarnya saham BUMI tidak masuk kategori, namun kita melihat ada peluang kinerja dan perbaikan data keuangan BUMI kedepannya. Dari laporan keuangan tahun 2017 yang sudah keluar, tanda – tanda kearah tersebut kembali terlihat. Laba bersih tahun 2017 sebesar 373 juta dollar atau naik 451% dari tahun 2016. Namun yang terpenting adalah sepanjang tahun 2017 dari kuartal 1 hingga kuartal 4 posisi keuangannya sudah terlihat membaik. Per 2017 total ekuitas emiten sudah positif 286 juta berbanding minus 2.8 milyar dollar di tahun 2016. Meskipun ekuitas pemilik entitas induk emiten masih minus 438 juta dollar berbanding minus 2.7 milyar dollar tahun 2016. Kita melihat jika harga batubara tetap bisa postif diatas $70, maka tahun ini nilai ekuitas pemilik entitas induk akan kembali postif dan ketika itu terjadi maka BUMI akan mengejar ketertinggalanny dari emiten – emiten batubara lain.

Tanggal 27 Maret saya membuat posting tentang perubahan perhitungan kinerja bulanan. Termasuk kinerja program Desember 40% akhirnya saya gabung dengan protofolio utama. Penggunaan index untuk menilai kinerja menurut saya lebih akurat untuk melihat bagaimana naik turunnya nilai investasi. Mulai bulan ini juga saya tidak akan menampilkan daftar emiten serta kinerja masing – masing, namun saya akan lebih menyajikan nilai index nya serta membandingkannya dengan index IHSG.

Berikut ringkasan kinerja per bulan Maret 2018.

Index Close Feb.2018 Close Mar.2018 MOM % YOY % Sum %
IHSG 6597.22 6188.987 -6.18 % -2.62 %
Portofolio 1431.069 1276.312 -10.81 % 16.00 % 27.63 %

Catatan:

  1. Setelah bulan Februari 2018 kinerja kita +6.5%, kinerja bulan ini cukup menantang. Seiring penurunan index -6.18% sepanjang Maret, kinerja kita juga turun -10.81%.
  2. Sepanjang tahun kinerja kita masih terbilang lebih baik jika dibandingkan index IHSG. Kita masih bisa membukukan kinerja positif 16% sementara index turun -2.62%.
  3. Kita mengharapkan di bulan April ini kinerja kita kan lebih baik daripada bulan Maret kemarin, seiring sudah keluarnya laporan kuangan tahunan 2017 serta akan keluarnya laporan keuangan kuartal 1 2018.